Rabu, 21 September 2016

Layang-layang Impian - majalah Bobo

Ajit berdiri di pinggir alun-alun. Dipandangnya langit yang berwarna biru. Sekelompok awan putih melayang di ufuk barat. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Matanya tiba-tiba berbinar-binar. Ia melonjak-lonjak kegirangan. Layang-layang yang dicarinya muncul di udara. Layang-layang bergambar ikan itu terbang dengan gagahnya. Warnanya merah menyala. Ekornya panjang. Ekor itu bergerak-gerak tertiup angin. Layang-layang itu menari-nari di udara dengan indahnya. Ajit ingin punya layang-layang seperti itu. Tapi, itu pasti mahal harganya.
Di tengah alun-alun, sekelompok anak-anak menerbangkan layang-layang mereka. Ada yang bergambar burung, ada yang seperti gurita. Ajit tertawa melihat ekornya yang berkibar-kibar. Sudah dua hari ini Ajit selalu pergi ke alun-alun melihat layang-layang. Ia suka layang-layang. Rasanya seperti ikut terbang di udara. Diperhatikannya anak-anak yang punya layang-layang. Ajit iri, ia ingin seperti mereka. Menerbangkan layang-layang sambil tertawa-tawa.
Ajit meninggalkan alun-alun. Ia mampir di toko layang-layang di pojok jalan. Di depan toko tergantung dua layang-layang besar. Ajit kagum. Matanya terbelalak. Berjingkat-jingkat ia mengintip harganya.
“Wah…, mahal. Uangku belum cukup,” kata Ajit dalam hati. Ia menunduk sedih. Iapun beranjak dari toko itu.
Pulang sekolah Ajit bergegas ke rumah Tino. Mereka harus menyelesaikan tugas gambar. Ia ingin tugasnya cepat selesai. Ajit tak sabar ingin segera ke alun-alun. Pikiran Ajit masih kembali ke layang-layang oranye idamannya. Ajit mengeleng-gelengkan kepalanya. Dikembalikannya pikirannya ke tugas menggambar. Tino sedang mewarnai gambar mereka. Kuasnya menari-nari di atas kertas. Kuas Tino lincah bergerak-gerak seperti ekor kuda. Tangannya bergerak cepat dari tempat cat ke kertas gambar. Gambar rajawali itu seolah hendak terbang.
“Gambarnya hampir selesai,” Ajit tersenyum lebar. Ia senang. Tino hanya mengangguk.
“Aku mewarnai awannya ya,” tambah Ajit.
Tino menjawab dengan malu-malu “Iya.” Matanya tidak beralih dari kuas yang bergerak. Ia sedang mewarnai sayap rajawali. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
            “Warna bulunya seperti rajawali beneran,” Ajit terbelalak. Ia kagum. “Gambarnya hidup.”
Ia memandang Tino yang sedang memainkan kuasnya. Srat…. Sret…. Ah…. sebuah ide berkelebat di kepalanya. Ajit cepat-cepat menyelesaikan gambarnya. Ia ingat, ia masih harus mampir ke rumah Dani.
            Ajit membuka pagar rumah Dani. Pagarnya tidak dikunci. Pandangannya tertuju ke deretan payung-payung kuning. Payung dari kertas berjejeran. Payung-payung itu seperti deretan roda sepeda hias. Bulat, berjari-jari dan penuh lukisan. Kepala Dani tiba-tiba menyembul di atas payung. Lucu. Seperti kepala kura-kura yang tiba-tiba muncul. Ajit tertawa terbahak-bahak.
Dani mengerutkan kening. Ia heran. “Ayo bantu aku. Ini masih ada yang harus di lem.”
Ajit ikut berjongkok dan membantu Dani. Payung-payung itu untuk adik-adik mereka di TK yang akan pentas menari. Dani senang membuat kerajinan tangan.
            “Lihat…., aku membuat payung kecil ini,” Dani mengangkat payung hiasan buatannya. “Untuk di pasang di rangkaian bunga,” Dani memasangnya di rangkaian bunga meja. Rangkaian bunganya jadi lucu dan indah.
Mereka lalu duduk beristirahat di pinggir teras. Mereka lelah dan puas.
“Aku ingin layang-layang. Aku suka warna oranye. Tapi uangku belum cukup,” kata Ajit tiba-tiba sambil menengok ke angkasa. Ia menceritakan keinginannya ke temannya. Dani biasanya banyak akal, selain dia juga terampil.
“Aku pernah membuat layang-layang. Perlu bambu untuk rangkanya,” ujar Dani bersemangat. Kerajinan tangan, itu hobinya.
            “Kita tidak punya bambu,” sahut Ajit.
            “Pak Karto di sebelah punya pohon bambu,” kening Dani berkerut.
Pak Karto, tetangga Dani terkenal galak. Tampangnya seperti pak Raden yang di TV. Anak-anak takut padanya.
            “Kau saja yang ke pak Karto meminta bambu,” Ajit bergidik. “Aku takut.”
            “Aku tidak mau sendirian kesana. Seram,” Dani melihat sahabatnya. “Harus bersama-sama.” Ajit menghela napas. Ia akhirnya setuju.
            Keesokan harinya, Ajit dan Dani menceritakan rencananya membuat layang-layang ke Tino.
            “Kita masih perlu uang untuk benang dan lainnya,” ujar Dani.
            “Hmmm……, ikut ‘Hari Pasar Kaget’ saja. Minggu depan,” usul Tino lirih. “Aku tadi lihat posternya di mading.”
Di sekolah mereka setiap enam bulan sekali diadakan ‘Hari Pasar Kaget’. Pelajaran Ketrampilan mengajak murid-murid belajar berbisnis. Mereka boleh berjualan kerajinan tangan atau makanan.
Ajit berpikir keras. Keningnya mengerenyit “Jual apa?”
“Barter saja juga boleh,” Tino menyahut dengan pelan. “Barter benang layang-layang lama atau baru dengan payung hiasan. Aku buatkan poster untuk barter.”
“Payung?” pikir Ajit. Ia teringat rangkaian bunga Dani yang indah dan lucu. Pasti banyak yang suka. Ia tersenyum sendiri.
“Koq malah tersenyum-senyum sendiri,” tegur Dani.
“Aku teringat rangkaian bungamu,”Ajit tertawa. “Tapi aku belum bisa buatnya.”
“Kalau buatnya berdua lebih cepat. Aku ajari saja besok,” Dani menyahut dengan tegas.
Minggu depannya mereka sibuk melakukan persiapan untuk ‘Hari Pasar Kaget’. Tino diam-diam sudah menempelkan poster barter payungnya. Ada lukisan payung cantik Dani yang mungil. Dilihatnya banyak teman-teman perempuan yang mengerumuni poster itu. Ia cemas kalau tidak ada yang tertarik, nanti tidak dapat benang.
Dani susah payah melatih Ajit merangkai bunga. Ajit selalu tertawa-tawa. Ia selalu merasa lucu jika merangkai bunga. Dani jadi kesal dan gemas. Akhirnya Ajit bisa juga. Dani merasa lega.
Akhirnya “Hari Pasar Kaget’ tiba. Tidak disangka-sangka, banyak yang mengerubuti Tino. Ia agak ketakutan. Tino gemetar karena banyak orang berebut payung mungil. Ia menoleh ke Ajit dengan cemas. Seolah berteriak, bantu akuuu. Akhirnya banyak juga benang terkumpul. Teman-teman perempuan kebanyakan membawa benang kakaknya.
“Bagus rangkaian bunganya. Lucu sekali ada payung-payungannya. Sangat kreatif,” ibu Kepala Sekolah membeli rangkaian bunga.
Menjelang tengah hari masih tersisa tiga rangkaian bunga.
Ajit panik. Ia mondar-mandir di depan meja jualnya. Bu Kepala Sekolah mendatanginya. “Coba bawa ke ruang UKS. Bu Ana sedang piket. Dia suka bunga.”
Ajit dan Dani bergegas ke sana. Masing-masing membawa satu rangkaian. Bu Ana ternyata menyukainya. Dan Bu Desi yang sedang menemui be Ana membeli rangkaian yang satu lagi. Ajit dan Dani lega. Tersisa satu rangkaian bunga. Mereka memberikannya ke bu Ani, guru Ketrampilan.
“Terima kasih, bu,” ujar Ajit. “Kita hampir panen layang-layang.” Bu Ani menerima bunga dengan keheranan. Ajit dan teman-temannya sudah beranjak pergi dengan gembira. Tinggal buat rangka, batin Ajit.
Sorenya, mereka saling dorong-mendorong di depan rumah pak Karto. Tino sudah berbalik arah mau pulang. Dani memegang tangan kedua temannya. Ia bersikeras mereka kesana bertiga.
Mereka berhenti di balik pagar. Taman pak Karto indah. Ada kolam kecil dan kincir airnya. Di samping kiri ada pohon mangga yang sedang berbuah. Di sebelahnya tumbuh  pohon bambu yang lebat. Mereka mengintip dari balik pagar. Terdengar ada suara bapak yang marah-marah di bawah pohon mangga.
“Dani, engkau yang paling pemberani,” kata Ajit sambil menengok pagar pak Karto dengan cemas.
“Kita masuk bertiga. Ini khan layang-layangnya bukan hanya untukku,” tegas Dani.
“Hoi…. Siapa disitu?” Tiba-tiba ada suara menggelegar dari balik pagar.
Ajit terlonjak. Ia kaget. Matanya terbelalak menatap pagar. “Aaaa….aaaaku.”
“Kaaammii… pak,” Dani memberanikan diri. Tino bersembunyi di belakang Dani.
“Ada apa kalian disitu?” Mata pak Karto melotot. Kumis tebalnya bergerak-gerak.
“Kalian mau melempari manggaku ya?” kata pak Karto dengan galaknya. “Kincir airku kena batu jadi rusak.”
“Buuukkaan… pak. Kami tidak pernah melempari mangga,” Dani menyahut.
“Kaaami mau buat layang-layang. Kami perlu bambu untuk rangkanya,” sahut Ajit hati-hati. “Bambu bapak banyak. Mungkin bapak mau bantu kami.”
Pak Karto memelototi mereka. Ketiga sahabat itu deg-degan. Rasanya ingin lari pulang saja.
“Ha… ha… ha… Ayo, kalau begitu. Cucuku juga suka layang-layang,” pak Karto membuka pintu.
Dengan takut-takut ketiganya masuk. Pak Karto ternyata mau membantu mereka. Ia selama ini kesal dengan anak-anak yang suka melempari mangganya, makanya ia galak. Ajit dan teman-temannya lega. Pak Karto membantu membuat rangka. Pak Karto bahkan mengajari mereka cara menyeimbangkan rangka. Dani memasang kertas berdua dengan Ajit dan Tino melukis.
            Sore itu di alun-alun, Ajit bersorak-sorak. Ia senang. Jadi juga punya layang-layang. Gambar 

burung berwarna oranye. Ekornya putih panjang. Bertiga mereka menerbangkannya bersama. 

Layang-layang itu terbang meliuk-liuk. Ajit senang. Dani tertawa. Tino tersenyum tipis. Hasil susah 

payah bersama. Dinikmati bersama. Gembira bersama. Mereka memang harus bekerja keras. Tapi 

terbayar sudah lelahnya. Sangat menyenangkan

Cerita Pisang Goreng - Majalah Bobo

“Wah, buah pisangmu hampir masak.” Rizki menunjuk tandan pisang yang mulai berwana hijau tua. “Mau dipetik sore ini?”
“Belum. Besok saja.” Dani tersenyum lebar. Dani membayangkan ia akan makan pisang goreng. Nikmat. Air liurnya hampir menetes.
“Sebaiknya pisangnya dipetik nanti sore saja, Dan,” ujar Rizki dengan serius.
Dani heran. Ia mau bertanya. Tapi Rizki sudah berlari ke sekolah. Lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Dani pun segera berlari menyusul Rizki.
Dani baru enam bulan pindah ke kampung Talang. Ayah Dani kali ini ditugaskan di Riau. Kampungnya ada di pinggir jalan raya. Tapi sisi lain kampung itu berbatasan dengan hutan. Kadang Dani melihat elang terbang melayang di langit. Kera pun terkadang tiba-tiba sudah duduk di tepi jalan. Bahkan kata Rizki, gajah pun lewat di kampung mereka. Dani bergidik. Seram, pikirnya.
Sabtu pagi itu, Dani beranjak menuju pohon pisangnya. Pisangnya sudah hampir matang. Ia tak sabar hendak memotongnya. Tapi ibu memanggilnya.
“Dani, tolong antarkan telur ayam kampung ini ke mak Evi ya. Ada lima butir,” ibu mencegatnya. “Ini pesanan mak Evi kemarin.”
 Rumah mak Evi hampir di ujung jalan. Dani pun segera berlari mengantar telur itu. Ia ingin segera kembali untuk memotong pisang.
Mak Evi sedang membuat bolu pisang, ia sudah menunggu telurnya datang. Dani lalu membantu menghaluskan pisang. Ia ingin tahu cara membuat bolu pisang. Mak Evi sibuk membuat adonan dari telur dan gula pasir. Lalu mak Evi menambahkan tepung, mentega dan pisang yang dilembutkan.
“Wah, repot ya mak. Aku lebih suka buat pisang goreng saja,”ujar Dani. “Tinggal dicelup, digoreng, lalu dimakan. Lezat.”
Mak Evi pun tertawa mendengarnya. Mak Evi memasukkan adonan ke loyang. Lalu Dani pun pamit pulang, ia ingat, ada latihan bola hari itu.
Di lapangan bola, Dani segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah tiba lebih dulu. Ia harus banyak berlatih karena masih baru di tim itu. Apalagi, Dani bermain sebagai pemain sayap, tugasnya memberi bola umpan. Ia harus dapat memberikan umpan yang baik ke pemain penyerang.
Menjelang sore, Dani dan teman-temannya berhenti latihan. Dani sungguh capek. Udara di Riau sangat panas. Ini karena Riau dekat dengan khatulistiwa.
“Heh… heh… Rizki, besok pagi ke rumah ya,” Dani berkata dengan terengah-engah. “Kita makan pisang goreng istimewa.”

Rizki dan teman-temannya bersorak senang. Ya, tentu saja semua mau makan pisang goreng. Mereka lalu sibuk membereskan peralatan sepak bolanya sambil bercanda riang. Tak lama kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka tidak mau kemalaman di jalan.
 Dani pun bergegas pulang. Dani melewati jalan tembus agar cepat sampai di rumah. Di tepi jalan Dani melihat ada jejak yang tidak biasa. Jejak telapak kaki itu bulat dan besar. Di sebelahnya, juga ada telapak bulat yang lebih kecil. Aneh, pikir Dani.
“Jejak kaki siapa ya? Kok bulat?” Dani meletakkan telapak tangannya di atas jejak itu. Jejak itu lebih lebar dari telapaknya. Dani melihat sekelingnya. Sepi. Hari pun mulai gelap. Dani jadi merinding. Ia merasa seram, ia pun berlari sekencang-kencangnya.
Dani segera masuk rumah. Dani lalu teringat untuk memeriksa pohon pisangnya. Tapi, ia tak mau jalan ke kebun belakang. Ia masih merasa seram. Ia menjulurkan kepalanya keluar pintu belakang. Ia menengok ke arah pohon pisang. Dan tampaklah setandan pisang yang sudah ranum. Ia sebenarnya ingin memotong pisangnya sore itu. Tapi hari sudah gelap, pikirnya. Lagipula ia masih sedikit ketakutan. Dani mengurungkan niatnya untuk mengambil tandan pisang dari pohonnya.
Pagi itu, Rizki datang lebih awal. Ia akan membantu Dani menggoreng pisang. Berdua mereka berjalan ke kebun belakang. Mereka tertawa-tawa membayangkan makan pisang goreng.
Tapi, aduh, Dani dan Rizki terkejut melihat pohon pisangnya. Mereka terperangah. Pohon pisangnya berserakan. Jangan ditanya kemana buah pisangnya. Lenyap. Hanya ada beberapa jejak kaki bulat. Mirip jejak kaki yang Dani lihat kemarin sore.
Dani memandang pohon pisangnya. Mulutnya ternganga. Ia tak mengerti kenapa pohon pisangnya roboh. Tiba-tiba Rizki tertawa terpingkal-pingkal. Ia menunjuk jejak kaki yang bulat itu.
“Gajah,” ujarnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rupanya, gajah-gagajah itu sudah menghabiskan bukan hanya buah pisang tapi juga beberapa bagian pohon. Ya, gajah memang suka pisang. Dan mereka tahu pisang yang masak. Gajah bisa mencium aromanya. Dani pun akhirnya hanya tersenyum hampa. Gagal makan pisang goreng, pikirnya kesal.
 
****************

Selasa, 06 September 2016

Bapak Izinkan Hau Belajar Membaca - Kompetisi Blogger

Ketepak. Ketepuk.
Kaki anak perempuan hitam manis berusia sembilan tahun itu terdengar menjejak tanah. Diabaikannya telapak kaki kirinya yang hampir melepuh karena tidak beralas. Sambil berlari, tangan kirinya menenteng sandal jepit berwarna hijau yang tadi putus di tengah jalan. Sementara tangan kanannya membawa sebuah buku bergambar kancil dan harimau.
“Mamaaa!” teriaknya sambil melambai-lambaikan buku di tangan. Seorang perempuan yang sedang menyusun kacang tanah di keranjang menoleh lalu tersenyum. Wajahnya berkeringat dan tangannya belepotan tanah. Eno, anak perempuan berambut ikal itu berjalan mendekat.
“Mama dapat banyak kacang hari ini rupanya..” kata Eno seraya melirik keranjang berisi kacang tanah.
“Bisa ita¹ rebus dan sisanya dijual ke pasar,” sahut Mama. “Eh apa itu?” Mama melihat tangan Eno yang menenteng sesuatu.
“Oh, sandal jepitnya tadi putus di jalan, Ma..”
“Bukan itu. Satunya lagi..”
“Buku, Ma. Pinjam punya Etan.”
“Buat apa pinjam buku, Nak? Kamu kan tidak bisa membaca.”
“Tapi hau² suka gambarnya, Ma. Nanti malam hau akan perlihatkan buku ini pada Rae dan Riu sambil pura-pura membaca. Hahaha. Pasti si kembar itu kaget.”
Mama tersenyum kecil.
“Ayo pulang. Besok bantu Mama memanen jagung ya..” kata Mama seraya memanggul keranjang berisi kacang yang baru saja dipanennya. Eno mengangguk.
Perjalanan pulang tidak terlalu jauh. Hanya dua kilometer. Bagi Eno dan keluarganya yang terbiasa berjalan kaki, tentu jarak dua kilometer terhitung dekat.
“Ulang lagi ceritanya, Kak..” pinta Rae pada kakaknya. Sementara Riu masih terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita tentang harimau yang berhasil ditipu oleh kancil. Mendengar permintaan adik-adiknya, Eno kembali mengulangi ceritanya beberapa kali. Tentu saja ia tidak benar-benar membaca seluruh tulisan yang ada di buku tersebut. Eno hanya mengerti beberapa patah kata sambil mengartikan gambar-gambar yang ada. Ia bercerita dengan penuh ekspresi di depan adik-adiknya, seolah benar-benar sudah lancar membaca.
“Kakak hebat bisa membaca,” kata Riu dengan kagum. “Besok ajari ya, Kak..”
“Hehe. Tentu saja. Sekarang tidur dulu ya. Besok kakak akan bacakan cerita lain yang lebih seru lagi.”
“Besok? Sungguh?” tanya Rae. Matanya yang bulat berkerjap-kerjap. Eno mengangguk lalu menutupi tubuh adik kembarnya dengan selimut.
“Ke mana saja tadi emi³ seharian?” tanya Bapak sambil meletakkan cangkir kopi yang baru saja diseruputnya. “Di ladang membantu Mama bukan?”
“Di rumah Etan, Pak. Belajar membaca..” sahut Eno lirih.
“Etan? Anak petugas survey penduduk itu?”
Eno mengangguk pelan.
Hau ingin sekali bisa membaca..” suara Eno nyaris tidak terdengar. Bapak bangkit dari duduk lalu berdiri di atas lututnya sambil mengamit tangan Eno.
Emi mau bersekolah, Nak?” tanya Bapak dengan suara bergetar.
Eno diam.
Bagi Eno, sekolah adalah sebuah kata yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Sama seperti ribuan orang lainnya di Belu. Tak heran jika masih banyak diantara mereka yang buta huruf. Demikian pula Eno dan keluarganya.
Hau tidak ingin bersekolah, Pak. Bisa membaca saja sudah cukup..” sahut Eno. Bapak terdiam.
***
“Hari ini emi di rumah saja menjaga Rae dan Riu. Tidak usah pergi ke ladang,” pesan Bapak sesaat sebelum berangkat mencari kayu bakar.
“Baik, Pak..” sahut Eno seraya melirik buku pinjaman dari Etan yang tergeletak di meja. Buku itu sedianya akan ia kembalikan pada Etan agar bisa meminjam buku yang lain.
“Mumpung si kembar tidur, pergilah kembalikan buku. Biar Mama yang jaga Rae dan Riu,” kata Mama sesaat setelah Papa menghilang dari pandangan.
“Tapi, Ma..”
“Ini. Biar nanti Mama yang bicara pada Bapakmu,” kata Mama seraya menyerahkan buku bergambar kancil dan harimau itu pada Eno. “Lekas berangkat sebelum Mama berubah pikiran..”
Eno berlari-lari kecil menuju rumah Etan. Langkahnya terlihat agak pincang. Tadi malam Bapak memasang sebuah paku besar pada tali sandalnya yang putus sebagai penahan. Meski bisa dipakai lagi, tapi sandal jepit hijau itu jadi tinggi sebelah karena alasnya terganjal paku.
Sebuah rumah kayu beratap rumbia tampak di hadapan Eno. Di samping rumah itu terdapat rumah panggung dengan empat tiang penyangga tanpa dinding. Ada palang berwarna putih dengan tulisan hitam besar di salah satu tiang kayunya. Kemarin Eno sudah berhasil membacanya. UMA BACA, begitu bunyi tulisan itu.
Rumah itu adalah rumah Etan. Sesuai dengan namanya, rumah panggung itu memang digunakan sebagai rumah baca atau perpustakaan umum. Siapapun boleh meminjam buku di sana. Bahkan setiap hari Minggu, bapak Etan memberi kelas belajar membaca gratis. Di kelas itulah Eno kemarin belajar membaca.
“Eno!” panggil seseorang dari balik rak buku Uma Baca. Tampak Etan melambaikan tangannya. Eno berjalan mendekat.
Hau mau kembalikan buku ini,” kata Eno seraya menyerahkan buku cerita yang dibawanya.
“Sudah selesai?”
Eno mengangguk cepat.
“Oh iya, minggu depan ada festival dongeng di Atambua. Akan ada banyak pertunjukan. Panitia bilang, bapak menteri akan hadir. Uma Baca boleh mengirim dua perwakilan untuk tampil. Emi mau? Emi kan pintar mendongeng..” tanya Etan.
“Atambua? Mendongeng? Hau mau ikut. Ah, tapi jauh sekali..” keluh Eno sambil menggaruk belakang lehernya.
“Kalau kamu mau ikut, ita bisa berangkat sama-sama. Kebetulan bapak juga datang ke festival itu, jadi ita bisa menumpang mobil kantornya.”
“Wah, sungguh kebetulan!”
“Nanti emi pilih sendiri dongengnya ya,” lanjut Etan.
***
“Mama lihat buku cerita bergambar naga?” tanya Eno sambil memeriksa seisi rumah. Dari rak piring sampai alas tidur semua sudah diperiksanya, tapi buku cerita itu tak kunjung ditemukannya. Mama yang sedang menjahit baju menggeleng pelan.
“Sudah Bapak buang,” sahut Bapak yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Eno menoleh, sementara Mama meletakkan peralatan jahitnya begitu saja di meja.
“Kenapa, Pak?” tanya Eno heran.
Emi sekarang ingin bisa membaca, besok pasti ingin bisa menulis. Lalu besoknya lagi ingin sekolah. Setelah jadi orang pintar, besoknya jadi orang angkuh yang lupa dengan asal usul dan kampung halaman.”
“Eno hanya ingin bisa membaca, Pak. Kenapa Bapak berpikir jauh sekali seperti itu..” Mama berusaha membela.
“Ah, kenapa emi malah membela. Tidak lihatkah orang-orang pintar itu? Yang jadi sombong dan akhirnya malu mengakui leluhur. Bicara bahasa daerahnya saja malu. Hau tidak mau Eno seperti itu!”
“Besok pagi hau akan bacakan dongeng di depan Bapak Menteri, Pak. Sungguh, hau sama sekali tidak pernah berpikir akan menjadi orang yang angkuh, apalagi sampai melupakan leluhur. Hau akan berhenti belajar jika Bapak melarang, tapi ijinkan sekali saja hau buat bangga Bapak dan Mama di hadapan orang-orang dan bapak menteri..” kata Eno lirih. Ingin rasanya ia menangis keras-keras, tapi malu. Sudah malam. Sementara Bapak dan Mama terdiam. Ada sedikit raut penyesalan di wajah Bapak.
Matahari belum tinggi benar, tapi Eno sudah sibuk sejak tadi. Dipakainya baju yang paling bagus. Rambut ikalnya diikat dengan karet gelang warna merah. Ia tersenyum manis di depan cermin kecil yang tergantung di dinding rumah kayunya.
“Bapak ke mana, Ma?” tanya Eno. Ia tak melihat bapaknya sejak bangun tidur tadi pagi.
“Entahlah. Mama juga tidak tahu. Mungkin sudah pergi ke ladang sejak subuh.”
“Kalau begitu tolong pamitkan pada Bapak ya, Ma. Hau ke rumah Etan dulu, setelah itu baru ke Atambua.”
“Jangan lupa bawa bekal yang sudah Mama siapkan,” pesan Mama.
Eno menyambar sebuah bungkusan plastik hitam di atas meja lalu bergegas ke luar rumah setelah mencium Mama dan kedua adiknya.
***
Hau cuma punya jagung satu keranjang. Tadinya mau hau jual ke pasar. Kalau boleh tukar dengan ongkos ke Atambua, mau lihat pertunjukan anak hau..” dengan wajah penuh harap, Bapak menunjukkan keranjang berisi jagung di punggungnya.
Sopir angkot itu melirik sebentar, lalu menggeleng pelan.
“Mana ada ongkos angkot dibayar dengan jagung,” katanya singkat.
“Tapi cuma ini yang hau punya..” kata Bapak lagi. “Tolonglah..”
Beberapa orang penumpang saling pandang.
“Biar hau beli semua jagungnya, Pak. Bapak naik saja,” kata seorang laki-laki yang duduk di jok belakang.
“Ah, benar begitu, Pak?” tanya Bapak dengan mata berbinar. Laki-laki berseragam cokelat itu mengangguk. Bapak buru-buru menurunkan keranjang, lalu memasukkannya ke dalam angkot. Sambil menyeka keringat, laki-laki setengah baya itu duduk di jok angkot yang keras. Sebuah buku bersampul gambar naga digenggamnya erat-erat.
“Buku ceritanya sudah Bapak temukan, Nak..” katanya dalam hati.
Di belakang panggung, Eno memejamkan matanya. Ia berusaha mengingat kembali urutan dongeng yang hendak ia ceritakan. Sesekali dahinya mengkerut. Saat Bapak membuang buku cerita yang dipinjamnya dari Etan, Eno baru membacanya dua kali.
Mendengar namanya disebut, jantung Eno berdegup dua kali lebih kencang. Sama seperti saat ia dikejar anjing liar tempo hari. Eno menarik nafas panjang, lalu melangkah ke panggung.
“Legenda Lok Si Naga...” Eno memulai ceritanya dengan suara berat. Sambil mengumpulkan keberanian, ia memandang deretan penonton yang ada di hadapannya. Orang-orang yang duduk di kursi paling depan adalah Bapak Bupati, Bapak Menteri dan orang-orang penting lainnya. Begitu kata Etan. Eno menarik nafas panjang sekali lagi lalu melanjutkan ceritanya.
Di daerah Nangahale, Kabupaten Sikka, tinggallah sebuah keluarga nelayan. Mereka memiliki seorang anak. Saat kedua orang tuanya mencari ikan, si anak tinggal di rumah.
Pada suatu hari, kedua orang tua nelayan itu pergi mencari ikan. Namun sayang, sampai matahari hampir terbenam mereka belum juga ada ikan yang mereka dapat. Saat mereka hampir putus asa, tiba-tiba mereka melihat sebuah telur yang amat besar tersangkut di jala. Karena takut, mereka memutuskan untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Namun tiap kali mereka memasukkan telur itu ke sungai, setiap kali itu pula telur itu tersangkut di jala mereka. Akhirnya suami-istri itu memutuskan untuk membawa pulang telur tersebut.
Sesampainya di rumah, mereka mendapati anaknya sedang tidur. Karena lapar, telur yang besar itu akhirnya direbus lalu dimakan bersama nasi. Sungguh aneh. Setelah memakannya, tiba-tiba suami-istri itu berubah menjadi dua ekor naga yang besar. Anak mereka yang baru saja bangun terkejut dan menangis saat mendapati kedua orang tuanya telah berubah menjadi naga.
Dengan penuh kasih sayang, sang ayah bercerita tentang asal muasal kejadian tersebut. Sementara sang ibu berpesan untuk tidak sekali-kali memakan sisa telur yang ada, karena itu adalah telur naga putih. Barangsiapa yang memakannya, maka akan berubah menjadi naga seperti mereka berdua.
Setelah meninggalkan pesan tersebut, keduanya kembali ke sungai untuk melawan naga putih yang telah mengubah wujud mereka. Jika air sungai berubah menjadi merah, itu adalah pertanda kalau mereka kalah. Tapi sebaliknya, jika air sungai berubah menjadi putih, itu pertanda bahwa mereka yang menang. Tanda berakhirnya pertarungan itu akan muncul ketika hujan turun rintik-rintik saat cuaca panas dan munculnya pelangi diantara langit dan bumi.
Setelah orang tuanya pergi, anak itu selalu duduk di tepi sungai. Pada suatu hari yang panas, turunlah hujan rintik-rintik. Lalu pelangi muncul tak lama kemudian. Dari tepi sungai, anak itu melihat air sungai berubah menjadi putih, pertanda kedua orang tuanya berhasil mengalahkan si naga putih. Meskipun demikian, keduanya tetap tidak bisa kembali menjadi manusia. Si anak yang bersedih, tetap menunggu di tepi sungai sampai akhir hayatnya.
Para penonton yang semula hening, akhirnya bertepuk tangan meriah setelah Eno menyelesaikan ceritanya.
“Setelah mendengarkan cerita ini, saya harap bapak-bapak, ibu-ibu dan para hadirin sekalian tidak takut untuk makan telur. Tenang saja, telur di sini diambil dari kandang ayam atau kandang bebek dan bukan dari dalam sungai..” kata Eno yang disambut gelak tawa penonton. Mereka kembali bertepuk tangan. Eno tersenyum sambil memamerkan giginya. Hatinya bangga bukan kepalang.
“Eno!” teriak seseorang setelah pertunjukan selesai. Eno menoleh.
“Bapak?” Eno berlari kecil menghampiri bapaknya. “Kok Bapak bisa sampai di sini?”
“Bapak mau kembalikan buku cerita, Nak. Sedikit kotor, tapi Bapak yakin masih bisa dibaca. Ini..” Bapak menyerahkan sebuah buku yang belepotan tanah. “Kemarin Bapak membuangnya ke ladang. Maafkan Bapak ya..”
Eno buru-buru memeluk bapaknya
“Bapak bangga sekali melihat emi tadi. Kalau panen besar tiba, Bapak akan belikan buku apapun yang emi mau..”
Eno memeluk bapaknya semakin erat.
“Terima kasih, Pak..” katanya lirih.



Keterangan
¹ita =  kita
²hau =  saya

³emi =  kamu

Minggu, 04 September 2016

Perlombaaan di Tepi Pantai - Nusantara Bertutur Kompas Klasika

Dani sedang berlibur di rumah kakek di Yogyakarta. Sepupunya, Jarot, juga berlibur di sana. Kali ini, Dani ingin melihat pantai. Baginya, laut itu selain indah juga tempat hidup ikan yang beraneka ragam. Ya, Dani memang suka makan ikan.
Sore itu, Dani dan Jarot diantar ayah ke salah satu pantai di Gunung Kidul. Pasirnya berwarna putih. Air lautnya bening. Indah sekali. Tapi pantainya penuh karena banyak pengunjung yang datang.
“Dani, itu tempat sampahnya,” ujar ayah. “Sampah plastiknya dimasukkan ke dalam tong sampah, ya.”
Dani mengangguk. Ia juga suka lingkungan yang bersih. Ia lalu menarik Jarot ke tepi laut. Tak lama kemudian, Dani dan Jarot sudah berlari-lari dan bermain air. Sungguh menyenangkan dan menyegarkan.
Sedang asyik bermain, tiba-tiba kaki Dani terjerat kantong plastik. Ia terjerembab. Byuurr… Dani basah kuyup. Dani mengerutkan dahinya. Ia tidak keberatan tercebur ke air, tapi ia tidak suka ada sampah plastik di laut. Minggu lalu, ia membaca tentang sampah plastik yang menyebabkan ikan-ikan mati. Bahkan penyu pun bisa mati bila tidak sengaja menelan plastik. Satwa laut itu bisa kelaparan.
Dani lalu mengamati tepian pantai. Aduh, ternyata ada juga botol minuman plastik dibuang di pantai. Plastik itu bisa terbawa ombak ke tengah laut. Itu akan menyebabkan polusi di laut. Polusi dapat membuat ikan-ikan sakit.
Dani tidak mau plastik itu mengganggu kehidupan ikan di laut. Ia sibuk berpikir. Ia ingin pantainya tetap bersih. Aha, Dani dapat ide.
“Jarot, ayo kita lomba pungut plastik,” ajak Dani.
“Untuk apa?”
“Supaya pantainya bersih, lautnya jadi sehat dan kita juga sehat. Berlari itu olahraga. Jadi kita berolahraga sambil menjaga kebersihan lingkungan,” ucap Dani.
Jarot segera lari memunguti sampah.
Dani mengingatkan, “Eit, tunggu dulu. Kita ambil sarung tangan. Ayah selalu membawa beberapa pasang.”
Tak lama kemudian, Dani dan Jarot sudah berlomba-lomba mencari plastik yang ada di pantai. Sesekali Dani mengejar plastik yang terbawa ombak. Seru sekali mengejar ombak. Ayah pun ikut terjun ke pinggir pantai. Mereka berburu sampah plastik sambil bermain air.
Akhirnya bersih juga. Dani tersenyum puas. Ia capai, tapi ia senang. Pantainya jadi bebas sampah plastik. Lautnya yang biru jernih pun terjaga.
            “Wah, pantainya sudah bersih,” ucap Dani dengan gembira.
            “Bagus sekali. Lingkungan yang bersih membuat hidup kita sehat,” ayah mengacungkan ibu jarinya.
            “Ikannya juga jadi sehat,” sahut Dani. “Kita bisa makan ikan yang sehat.”
            Ayah tertawa. Ayah tahu, Dani mulai lapar.

***

Hikmah Cerita: Laut itu sumber daya Indonesia yang kaya. Jadi kita harus menjaga kelestarian laut kita. Kepedulian terhadap lingkungan itu akan membuat kita hidup sehat.

Menanam Bakau - Nusantara Bertutur Kompas Klasika

“Lila, yuk ikut ke pantai,” tante Mia sudah siap dengan topi lebarnya.
“Asyiik, kita akan main pasir di pantai,” Lila melonjak kegirangan.
“Eh, kita tidak ke pantai pasir putihnya. Kita melihat hutan bakaunya. Seru kok,” tante Mia cepat-cepat menjelaskan.
“Hutan bakau banyak lumpurnya tante,” keluh Lila. Tante Mia tersenyum penuh rahasia.
Apa serunya melihat hutan bakau, pikir Lila. Tapi rasa ingin tahu Lila tergelitik. Akhirnya ia ikut juga.
Tante Mia, adik bunda itu suka menjelajahi pantai di akhir pekan. Baru kali ini Lila ikut. Sudah dua hari ini tante Mia menginap di rumah Lila di Medan. Ia akan pergi ke pantai bakau di sebelah barat Medan. Jaraknya sekitar dua jam dari rumah Lila.
Sesampainya di pantai, Lila mengikuti tante Mia yang membawa beberapa bibit tanaman bakau. Mereka akan menanam bibit bakau itu. Lila memasukkan kakinya ke tanah yang becek. Hiii, geli. Lila pakai sepatu tapi tetap saja ia merasa geli melihat lumpur yang seperti bubur hitam. Lila melihat beberapa ikan kecil dan biota laut lainnya yang bersembunyi di antara akar tanaman.
 “Lucu sekali. Itu anak kepitingnya bersembunyi,” ujar Lila. Ia terkikik geli. Ia lupa dengan lumpur yang tidak disukainya. Tante Mia membuat lubang di tanah. Lila segera memasukkan bibit yang dipegangnya. Ia lalu memegang bibit itu agar tante Mia mudah mengikatnya ke batang bambu penopang.
Lila akhirnya sibuk menanam sambil memperhatikan hewan-hewan kecil yang kadang tampak muncul dari dalam lumpur. Kadang-kadang ia menjerit geli, bila ada anak kepiting yang tiba-tiba muncul. Tentu saja kepiting itu juga kaget dan berlari menjauh.
“Tanaman bakau ini menjadi tempat tinggal anak-anak ikan, udang maupun kepiting. Mereka bisa bersembunyi di antara akar bakau. Kalau sudah cukup besar baru mereka ke laut,” tante Mia menjelaskan.
“Jadi ini jadi tempat persembunyian anak-anak ikan dan kepiting ya tante?” Lila mengerutkan keningnya. “Oh, jadi tanaman bakau bukan hanya untuk menahan abrasi laut.”
“Iya, ikan, udang dan kepitingnya lalu bisa dipanen bila sudah cukup besar. Dan buah bakaunya juga bisa dibuat jadi dodol,” tante Mia menjelaskan sambil tersenyum.
Lila jadi tahu, tanaman bakau banyak manfaatnya. Sungguh menyenangkan bisa bekerja sambil belajar.
Menjelang siang, selesai sudah menanam bakaunya. Lila memandang bibit bakau yang ditanamnya. Ia senang bisa ikut menjaga tempat hidup satwa air itu. Selain itu, tanaman bakaunya juga mencegah pengikisan pantai. Lalu, Lila mengikuti tante Mia yang mengajaknya ke rumah makan di tepi pantai. Mereka akan makan kepiting rebus dan dodol bakau. Sungguh nikmat. Rasa capai Lila pun hilang.

***
Hikmah Cerita: Mari kita jaga pantai kita dari pengikisan, agar kekayaan satwa yang hidup di sana tidak lenyap.


Terri Anjing dan Shepy Domba - majalah Bobo 2016



Shepy Domba melihat ke arah Terri si anjing gembala. Huh, Shepy Domba mendengus. Enak sekali si Terri itu, kata Shepy Domba dengan kesal. Terri si anjing gembala duduk di bawah pohon yang rindang. Ia duduk di sebelah pak Tom. Sesekali, tangan pak Tom mengelus kepala Terri. Uh, pak Tom lebih menyayangi Terri, kata Shepy Domba dalam hati.
Shepy Domba dan rombongannya sedang makan rumput di tengah ladang. Panas matahari menyengat. Shepy Domba yang kepanasan jadi semakin sebal. Ia ingin berteduh seperti Terri. Tapi setiap Shepy Domba keluar dari kelompoknya untuk mencari tempat yang teduh, Terri selalu berlari dan menyuruhnya kembali. Terri selalu menyalak dengan ribut, bila ia tidak bergabung lagi dengan saudara-saudaranya. Suara salakan Terri itu selalu membangunkan pak Tom. Nah, Pak Tom lalu menggiringnya kembali ke tempat berkumpul domba-domba yang panas itu. Huh, Shepy Domba benar-benar jengkel dibuatnya.
***
            Pagi itu pak Tom kembali membawa rombongan dombanya ke padang rumput. Seperti biasa, Terri dengan gembira membantu pak Tom menggiring domba-dombanya. Ia berlari di depan domba-domba itu. Pak Tom menjaga barisan domba di belakang. Kadang-kadang Terri berlari ke belakang. Ia mengelilingi pak Tom, lalu balik berlari di samping domba-domba itu.
“Selamat pagi semuanya. Nanti jangan terpencar ya.” Terri Anjing sibuk mengingatkan semua domba.
Debi Domba yang ada di depan rombongan mengangguk dengan senang. “Tentu saja,” sahutnya. Terri senang. Ia berlari lagi di depan.
Shepy Domba mendengus. Debi Domba mengernyitkan dahinya. Ia mendekati Shepy Domba. “Sebaiknya engkau tidak jauh-jauh.” Debi Domba memandang dengan serius.
“Sebaiknya tetap berkumpul. Di pojok padang yang rumputnya tinggi itu ada ular. Bahaya.” Dibo Domba mengingatkan. Terri kemarin memeriksa ke tempat yang rumputnya tinggi. Lalu ia memberi tahu Dibo kalau ada bahaya di tempat yang rumputnya tinggi.
“Tapi di tempat kita makan rumput itu panas. Kenapa tidak makan rumput di tempat teduh saja?” Shepy Domba merengut. Tapi, ia tetap mengikuti kawan-kawannya walaupun dengan bersungut-sungut.
***
            Setelah memastikan semua domba-domba berkumpul di satu tempat, Terri kembali duduk di sebelah pak Tom. Ia duduk dengan tenang. Pak Tom yang menunggu ternak dombanya itu terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian Pak Tom pun tertidur.
            Terri mendatangi domba-domba yang sedang merumput. Ia memastikan semua masih berkumpul bersama. Lalu, ia kembali menjaga pak Tom. Ia melakukannya beberapa kali.
            Tengah hari, matahari tepat di atas mereka. Shepy Domba mulai kepanasan. Ia melihat daerah yang rumputnya tinggi. Uh, disana pasti aku lebih cepat kenyang, pikirnya. Rumputnya lebih lebat. Lagipula rumput disana lebih gemuk. Shepy Domba ingin cepat kenyang jadi ia bisa cepat istirahat. Ia iri dengan Terri yang istirahatnya banyak. Istirahat di tempat teduh, tentu saja amat nyaman. Ia melihat Terri yang ada di bawah pohon. Ia cemberut.
            Shepy Domba melanjutkan makan rumput. Tapi, ia selalu mengamati Terri. Ia bertekad akan makan rumput yang panjang itu. Rumputnya lebih besar-besar. Pasti enak, pikir Shepy Domba. Ia mengamati Terri dengan seksama. Ia menunggu kesempatan untuk pergi ke tempat yang rumput-rumputnya tinggi.
             Saat Terri sedang menengok ke arah lain. Shepy Domba menyelinap pergi dari rombongan. Ia cepat-cepat menuju bagian padang rumput yang rumputnya tumbuh lebih tinggi. Ia berlari dengan semangat. Ia sudah ingin segera mencicipi rumput yangnampak hijau dan lebat itu.
            Shepy Domba yakin tempat itu aman baginya. Terri Anjing hanya tidak mau membiarkan mereka makan enak saja. Apalagi sambil berteduh. Huh, pasti Terri tidak suka kalau domba-domba makan enak.
            Shepy Domba segera melahap rumput-rumput yang gemuk itu. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Rumput-rumput itu memang enak dan mengenyangkan. Shepy Domba mendengar suatu gemerisik. Sepertinya ada sesuatu yang bergerak halus. Ia mengamati sebentar. Tapi ia tidak melihat apa-apa. Shepy Domba melanjutkan makannya.
            Tiba-tiba Shepy Domba melihat mata yang berkilat-kilat tak jauh darinya. Ia berhenti mengunyah. Oh, seekor ular dengan kepala yang lebar. Ular itu badannya tegak dan menjulur-julurkan lidahnya. Ia ingat kata Dobi, ular yang kepalanya lebar itu berbisa. Aduh, seram.
            Shepy Domba berteriak kaget. Ia takut. Ia tak dapat bergerak. Shepy Domba gemetar.
            Tiba-tiba terdengar Terri berteriak, “Pergi. Jangan ganggu domba ini.” Terri mendekati ular itu dari samping. Terri berusaha menggigit ular itu di lehernya. Terri menyalak sambil berusaha melindungi Shepy Domba. Ular itu memutar kepalanya ke arah Terri. Sekarang ular itu berusaha menyambar Terri. Terri melompat menghindar.
            “Larilah, Shepy. Cepat,” teriak Terri sambil tetap menatap ular itu. Sekali lagi Terri maju untuk menggigit ular itu. Sekarang, Terri dan ular itu saling berhadap-hadapan.
            Shepy Domba yang masih kaget itu akhirnya tersadar. Ia berlari secepat-cepatnya ke gerombolan teman-temannya. Ia berlari tanpa menoleh lagi.
***
            Sore itu, domba-domba berkumpul di dalam kandang. Mereka mengelilingi Shepy Domba. Shepy Domba masih agak gemetar. Debi Domba berusaha menenangkannya.
            Shepy Domba gelisah. Ia belum melihat Terri Anjing. Ia khawatir Terri terluka. Shepy Domba berkali-kali menoleh ke pintu pagar. Tak lama kemudian, Terri datang ke samping kandang. Ia ingin melihat Shepy Domba.
            “Shepy, kamu baik-baik?” Terri kelihatan cemas.
            Shepy berlari ke pinggir kandang. Ia minta maaf dan lain kali akan makan rumput di dekat yang lain. Ia tahu kini, Terri bermaksud baik. Terri ingin memastikan semua domba selamat.

            Terri mengangguk. Ia tersenyum. Shepy Domba lega. Senyumnya mulai mengembang. Ia tak mau lagi jauh-jauh dari Terri bila ke padang rumput.

Celemek Bergambar Matahari dan Lebah - majalah Bobo




Liburan tinggal sebulan lagi. Laras tidak sabar. Laras akan membawakan celemek baru untuk nenek. Celemek berwarna hijau. Warna kesayangan nenek. Celemek bergambar matahari dan lebah. Celemek yang indah. Celemek istimewa untuk nenek. Ia akan membuatnya sendiri. Laras membayangkan nenek memakai celemek bergambar matahari dan lebah. Laras tersenyum sendiri.
Laras memandang sekali lagi kain hijau yang sudah dipotongnya menjadi celemek. Hampir jadi. Tinggal menjahit talinya. Lalu yang terakhir, tinggal menambahkan aplikasi gambarnya. Aplikasi kain felt bergambar matahari dan bintang.
Ia belum punya pola gambar matahari dan lebah. Ia harus menemukan pola gambar itu. Keningnya berkerut.
***
Laras memeriksa kotak pos sekali lagi. Kosong. Tidak ada sepucuk suratpun di dalamnya. Laras kecewa. Ia mengharapkan ada sepucuk surat. Surat dari sahabat penanya di Bandung.
Laras masuk ke rumah dengan muka cemberut. Surat balasan Ayi belum tiba juga. Ayi, sahabat penanya itu tinggal di Bandung. Laras langsung ke dapur. Ia mencari bunda.
“Ada surat buat Laras, bun?” Laras menyapa bunda yang sedang memindahkan nasi putih ke dalam tempat nasi. Bunda menggelengkan kepala. Ah, Laras kecewa. Ia menghembuskan napasnya. Kak Arum yang sedang mengelap piring melihatnya dengan heran. Tapi Laras sudah langsung lari ke kamarnya.
Ayi suka membuat hiasan aplikasi. Ia suka menjahit juga. Mereka selalu bertukar ide lewat surat. Ia memandang foto yang Ayi kirim. Ayi memakai tas buatannya sendiri. Hiasannya dari kain felt. Hiasannya lucu. Laras suka. Pasti bagus juga kalau dijahit di celemek. Tapi Laras mau gambar yang lain. Gambar matahari dan lebah. Ia harap Ayi punya gambar yang diinginkannya. Liburan tinggal tiga minggu lagi. Ia tak sabar menanti surat balasan Ayi.
***
            Laras mematut celemek yang dipersiapkannya untuk nenek. Celemek itu kelihatan bagus. Tapi belum ada hiasan kain feltnya itu. Pasti lebih indah kalau ada aplikasinya. Ia sudah tahu gambar yang akan dibuatnya. Tapi, ia tidak punya polanya. Ia sedih.
Ia memandang surat dari Ayi. Surat itu tiba tadi siang. Ayi tidak punya pola gambar yang Laras mau. Ayi mengirimkan beberapa gambar pola. Yang dikirim Ayi bagus juga. Ada pola gajah, ada juga pola burung. Tapi Laras tidak suka. Laras mau gambar matahari dan lebah. Laras bingung. Ia tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan celemek itu. Aduh, Laras pusing memikirkannya.
***
            Sore itu, kak Arum sedang sibuk menggambar di ruang tengah. Kak Arum memang suka menggambar. Ia selalu membawa buku sketsa kemana-mana. Laras duduk di dekatnya. Ia menghempaskan badannya. Ia cemberut.
            “Laras tidak jadi buat celemek.” Laras menyilangkan tangannya. Ia kesal.
            “Bukannya celemeknya sudah jadi? Celemeknya bagus,” kata kak Arum menghibur.
            “Celemeknya jelek. Gak ada gambarnya,” Laras mengerucutkan bibirnya. “Ayi kirim pola gambar gajah. Laras gak suka. Laras mau gambar yang lain.”
            Kak Arum tertawa geli melihat Laras yang mukanya kusut. “Gambar gajah kan bagus.”
Laras menggelengkan kepalanya keras-keras. Mukanya masih cemberut.
"Laras mau gambar apa? Gambar bunga? Kak Arum bisa gambar bunga.”
            “Gak mau gambar bunga. Gak seru.” Laras kesal. Matanya berkaca-kaca. Laras lalu menceritakan gambar yang diinginkannya.
“Harus gambar matahari dan lebah,” ucap Laras. Tapi temannya tidak punya gambar itu.
Kak Arum tertawa. Ia lalu mulai mencorat coret buku gambarnya. Ah, Laras baru ingat, kakaknya itu pandai menggambar. Ia memukul dahinya. Kenapa tidak terpikir ya, kata Laras dalam hati.
***
            Laras menunjukkan celemeknya ke bunda dan kak Arum. Ia bangga. Celemeknya sudah jadi. “Ada dua,” kata Laras. Celemek itu terlihat indah, berwarna hijau dengan aplikasi berwarna kuning cerah.
            “Buat kak Arum ya, yang satunya?” Kakaknya menatapnya sambil tersenyum.
            “Bukan. Satu buat nenek, satu buat Laras. Laras mau pakai celemek kembar.”
            “Gambar matahari dan lebahnya bagus ya?” Mata kak Arum berkelip-kelip. Kak Arum menggodanya. 
“Ini pesan nenek ke Laras. Harus seperti matahari dan lebah,” Laras memandang gambar itu dengan serius. “Pesan nenek panjang. Laras suka lupa.” Laras memegang kepalanya.
Bunda dan kak Arum tertawa mendengarnya. Nenek memang senang mengajak masak bersama. Sambil belajar memasak, nenek akan memberikan nasihatnya.
“Kata nenek harus seperti lebah yang menebarkan kebaikan. Lebah menghasilkan madu. Madu itu baik buat semua.” Laras menunjuk gambar lebah. Lalu ia menunjuk gambar matahari “Matahari memberikan penerangan.” Laras tersenyum geli.
“Dijadikan gambar saja, supaya gampang diingat,” ucap Laras dengan senang. Ia jadi bisa mengingatnya dengan gampang. Ia tersenyum lebar.