Jumat, 18 Agustus 2017

Buku Tembok - Majalah Bobo



Detak jantung Musya berdebar kencang. Kedua tangannya dingin. Pak Hadi, wali kelasnya menyebut namanya berulang kali. Ia tidak berani melihat papan tulis. Ia hanya menunduk memandangi tali sepatu.
            “Dua puluh lima. Dari jumlah total suara, kita sudah bisa menentukan pemenangnya. Selamat Musya. Kamu terpilih menjadi ketua kelas berikutnya,” kata Pak Hadi lantang.
            Musya tercekat. Ketakutannya benar-benar terjadi.
            “Saya pak?” tanya Musya ragu.
            Pak Hadi mengangguk mantap. “Iya kamu. Silahkan beri sambutan singkat.”
            Musya memejamkan matanya berulang kali. Ia juga mencubit tangannya keras-keras. Siapa tahu ia bermimpi. Tapi sorakan teman-temannya membuatnya sadar. Ini nyata Musya!
            “Musya! Musya!”
            Musya tersenyum masam. Ia berjalan ke tengah kelas. “Terima kasih karena telah memilihku. Aku akan berusaha jadi ketua kelas yang baik,” katanya singkat. Ia tidak tahu harus bilang apa.
            Musya melangkah gontai ke kursinya. Fadli menepuk bahunya pelan. “Kau pasti bisa. Aku akan membantumu.”
            “Aku baru saja pindah ke sekolah ini. Aku belum mengenal sesisi kelas dengan baik. Tapi kenapa aku yang terpilih?” Musya menjatuhkan kepalanya ke atas bangku. Tidak peduli meski bel istirahat berbunyi kencang. Ia malas kemana-mana.
            “Ada pertandingan layang-layang nanti sore. Kau nggak mau ikut daftar?” Fadli menyolek pundak Musya.
            Musya menggeleng lemas. “Kau saja. Aku tidak selera ikut pertandingan apapun.”
            Kemurungan Musya terbawa sampai rumah. Nafsu makannya berkurang. Padahal ibu memasak semur daging, makanan kesukaannya.
            “Makanannya keasinan?”
            Musya menggeleng.
            “Lalu?” Ibu menunggu.
            “Aku terpilih jadi ketua kelas.”
            “Bagus dong,” kata Ibu ikut senang. Tapi begitu melihat wajah Musya yang semakin lesu, ibu memperbaiki raut mukanya.
            “Ibu tahu nggak caranya memahami anak-anak?”
            Ibu menaikkan alis.
            “Memahami perasaannya. Ibu mengajariku untuk berusaha memahami teman-temanku.”
            Ibu tersenyum mendengarnya. “Rupanya kau berusaha jadi ketua kelas yang baik?”
            Musya mengangguk. “Tapi aku nggak tahu gimana caranya.”
            “Ibu rasa Ibu bisa membantu,” kata Ibu.
***
            Musya menggengam bukunya erat-erat. Buku tembok pemberian Ibu.
            “Memahami manusia bisa dengan dua cara. Dari perut dan telinga. Seseorang yang kita beri makan, akan mengingat kita. Dan seseorang yang kita dengarkan, akan bercerita banyak pada kita,” ucap ibu panjang lebar tadi pagi. “Edarkan buku ini. Dengarkan cerita teman-teman barumu. Dengan ini kamu akan memahami mereka.”
            Musya menarik nafas. Ia mulai menulis di buku temboknya.
            Buku ini kayak tembok. Siapapun bisa corat-coret. –Musya, Ketua Kelas-
            Buku itu mulai berjalan sendiri. Mulanya ada di bangku Ifa. Ifa hanya membolak-balik tidak tertarik. Lalu ia memutuskan menulis. Selanjutnya buku itu tiba di bangku Felix. Cukup lama buku itu ada di sana. Felix bahkan tidak membukanya. Tapi lama kelamaan ia tertarik juga, dan mulai menulis. Seperti itu buku tembok bekerja. Hinggap di satu bangku. Kemudian berpindah ke bangku lainnya.
            Tanpa terasa, saat pulang sekolah buku itu kembali ke tangan Musya. Sudah ada 5 halaman tembok yang dicorat-coret. Musya tersenyum senang. Ia tak sabar ingin membaca cerita di dalamnya.
***
            Ifa menulis puisi.
Ibu,
Meski aku nggak tahu wajahmu.
Meski aku nggak kenal suaramu.
Meski kita berpisah sekarang.
Tapi aku selalu kangen Ibu.
Makasih,
Karena melahirkanku.
Meski Ibu harus pergi.
            Musya kaget membacanya. Ia butuh waktu lama sampai paham. Ibu Ifa meninggal? Tiba-tiba ia menjadi sedih. Musya membalik halaman. Ada tulisan Felix.
            Aku suka sekolah. Di sini banyak teman. Di rumah ada sih teman. Ada Mama dan Papa. Tapi teman-teman dekat rumah nggak asyik. Mereka nggak suka main di halaman. Mereka lebih suka main di rumah mereka.
            Musya setuju. Ia juga suka sekolah. Musya membalik halaman lagi. Ada tulisan Irfan.           
            Ketua kelas yang baru namanya Musya. Kayaknya ia asyik. Tapi aku nggak terlalu kenal. Aku suka main layang-layang. Kayaknya sih sama. Kalau aku ajak dia main layang-layang, mau nggak ya?
            Musya senyum-senyum sendiri. Besok ia akan menyapa Irfan. Ia yang akan mengajaknya bermain layang-layang sepulang sekolah.
            “Musya, makan dulu,” panggil Ibu.
Musya menurut. Ia meletakkan buku temboknya di laci. Dalam hati ia senang. Ia rasa, ia mulai mengenal teman-teman sekelasnya. Ia pun bercerita pada Ibu.
“Mendengarkan cerita orang lain selalu menyenangkan. Dengarkan saja, tidak perlu bicara atau komentar apa-apa kalau tidak diminta. Juga, tidak membocorkan rahasia mereka kepada siapapun. Jadi, kita bisa memahami, dipercaya, dan makin akrab dengan mereka,” tutur Ibu sambil menemani Musya makan. “Ingat, buku tembok itu hanya alat sementara, karena kalian masih belum akrab. Minggu depan, kalian harus sudah akrab dan terbuka! Jadi tidak usah pakai pesan tertulis lagi, tetap bisa langsung bicara secara lisan,” tambah Ibu.
Musya mendengarkan dengan rasa bangga dan kagum kepada Ibu.

***

Rabu, 21 September 2016

Layang-layang Impian - majalah Bobo

Ajit berdiri di pinggir alun-alun. Dipandangnya langit yang berwarna biru. Sekelompok awan putih melayang di ufuk barat. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Matanya tiba-tiba berbinar-binar. Ia melonjak-lonjak kegirangan. Layang-layang yang dicarinya muncul di udara. Layang-layang bergambar ikan itu terbang dengan gagahnya. Warnanya merah menyala. Ekornya panjang. Ekor itu bergerak-gerak tertiup angin. Layang-layang itu menari-nari di udara dengan indahnya. Ajit ingin punya layang-layang seperti itu. Tapi, itu pasti mahal harganya.
Di tengah alun-alun, sekelompok anak-anak menerbangkan layang-layang mereka. Ada yang bergambar burung, ada yang seperti gurita. Ajit tertawa melihat ekornya yang berkibar-kibar. Sudah dua hari ini Ajit selalu pergi ke alun-alun melihat layang-layang. Ia suka layang-layang. Rasanya seperti ikut terbang di udara. Diperhatikannya anak-anak yang punya layang-layang. Ajit iri, ia ingin seperti mereka. Menerbangkan layang-layang sambil tertawa-tawa.
Ajit meninggalkan alun-alun. Ia mampir di toko layang-layang di pojok jalan. Di depan toko tergantung dua layang-layang besar. Ajit kagum. Matanya terbelalak. Berjingkat-jingkat ia mengintip harganya.
“Wah…, mahal. Uangku belum cukup,” kata Ajit dalam hati. Ia menunduk sedih. Iapun beranjak dari toko itu.
Pulang sekolah Ajit bergegas ke rumah Tino. Mereka harus menyelesaikan tugas gambar. Ia ingin tugasnya cepat selesai. Ajit tak sabar ingin segera ke alun-alun. Pikiran Ajit masih kembali ke layang-layang oranye idamannya. Ajit mengeleng-gelengkan kepalanya. Dikembalikannya pikirannya ke tugas menggambar. Tino sedang mewarnai gambar mereka. Kuasnya menari-nari di atas kertas. Kuas Tino lincah bergerak-gerak seperti ekor kuda. Tangannya bergerak cepat dari tempat cat ke kertas gambar. Gambar rajawali itu seolah hendak terbang.
“Gambarnya hampir selesai,” Ajit tersenyum lebar. Ia senang. Tino hanya mengangguk.
“Aku mewarnai awannya ya,” tambah Ajit.
Tino menjawab dengan malu-malu “Iya.” Matanya tidak beralih dari kuas yang bergerak. Ia sedang mewarnai sayap rajawali. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
            “Warna bulunya seperti rajawali beneran,” Ajit terbelalak. Ia kagum. “Gambarnya hidup.”
Ia memandang Tino yang sedang memainkan kuasnya. Srat…. Sret…. Ah…. sebuah ide berkelebat di kepalanya. Ajit cepat-cepat menyelesaikan gambarnya. Ia ingat, ia masih harus mampir ke rumah Dani.
            Ajit membuka pagar rumah Dani. Pagarnya tidak dikunci. Pandangannya tertuju ke deretan payung-payung kuning. Payung dari kertas berjejeran. Payung-payung itu seperti deretan roda sepeda hias. Bulat, berjari-jari dan penuh lukisan. Kepala Dani tiba-tiba menyembul di atas payung. Lucu. Seperti kepala kura-kura yang tiba-tiba muncul. Ajit tertawa terbahak-bahak.
Dani mengerutkan kening. Ia heran. “Ayo bantu aku. Ini masih ada yang harus di lem.”
Ajit ikut berjongkok dan membantu Dani. Payung-payung itu untuk adik-adik mereka di TK yang akan pentas menari. Dani senang membuat kerajinan tangan.
            “Lihat…., aku membuat payung kecil ini,” Dani mengangkat payung hiasan buatannya. “Untuk di pasang di rangkaian bunga,” Dani memasangnya di rangkaian bunga meja. Rangkaian bunganya jadi lucu dan indah.
Mereka lalu duduk beristirahat di pinggir teras. Mereka lelah dan puas.
“Aku ingin layang-layang. Aku suka warna oranye. Tapi uangku belum cukup,” kata Ajit tiba-tiba sambil menengok ke angkasa. Ia menceritakan keinginannya ke temannya. Dani biasanya banyak akal, selain dia juga terampil.
“Aku pernah membuat layang-layang. Perlu bambu untuk rangkanya,” ujar Dani bersemangat. Kerajinan tangan, itu hobinya.
            “Kita tidak punya bambu,” sahut Ajit.
            “Pak Karto di sebelah punya pohon bambu,” kening Dani berkerut.
Pak Karto, tetangga Dani terkenal galak. Tampangnya seperti pak Raden yang di TV. Anak-anak takut padanya.
            “Kau saja yang ke pak Karto meminta bambu,” Ajit bergidik. “Aku takut.”
            “Aku tidak mau sendirian kesana. Seram,” Dani melihat sahabatnya. “Harus bersama-sama.” Ajit menghela napas. Ia akhirnya setuju.
            Keesokan harinya, Ajit dan Dani menceritakan rencananya membuat layang-layang ke Tino.
            “Kita masih perlu uang untuk benang dan lainnya,” ujar Dani.
            “Hmmm……, ikut ‘Hari Pasar Kaget’ saja. Minggu depan,” usul Tino lirih. “Aku tadi lihat posternya di mading.”
Di sekolah mereka setiap enam bulan sekali diadakan ‘Hari Pasar Kaget’. Pelajaran Ketrampilan mengajak murid-murid belajar berbisnis. Mereka boleh berjualan kerajinan tangan atau makanan.
Ajit berpikir keras. Keningnya mengerenyit “Jual apa?”
“Barter saja juga boleh,” Tino menyahut dengan pelan. “Barter benang layang-layang lama atau baru dengan payung hiasan. Aku buatkan poster untuk barter.”
“Payung?” pikir Ajit. Ia teringat rangkaian bunga Dani yang indah dan lucu. Pasti banyak yang suka. Ia tersenyum sendiri.
“Koq malah tersenyum-senyum sendiri,” tegur Dani.
“Aku teringat rangkaian bungamu,”Ajit tertawa. “Tapi aku belum bisa buatnya.”
“Kalau buatnya berdua lebih cepat. Aku ajari saja besok,” Dani menyahut dengan tegas.
Minggu depannya mereka sibuk melakukan persiapan untuk ‘Hari Pasar Kaget’. Tino diam-diam sudah menempelkan poster barter payungnya. Ada lukisan payung cantik Dani yang mungil. Dilihatnya banyak teman-teman perempuan yang mengerumuni poster itu. Ia cemas kalau tidak ada yang tertarik, nanti tidak dapat benang.
Dani susah payah melatih Ajit merangkai bunga. Ajit selalu tertawa-tawa. Ia selalu merasa lucu jika merangkai bunga. Dani jadi kesal dan gemas. Akhirnya Ajit bisa juga. Dani merasa lega.
Akhirnya “Hari Pasar Kaget’ tiba. Tidak disangka-sangka, banyak yang mengerubuti Tino. Ia agak ketakutan. Tino gemetar karena banyak orang berebut payung mungil. Ia menoleh ke Ajit dengan cemas. Seolah berteriak, bantu akuuu. Akhirnya banyak juga benang terkumpul. Teman-teman perempuan kebanyakan membawa benang kakaknya.
“Bagus rangkaian bunganya. Lucu sekali ada payung-payungannya. Sangat kreatif,” ibu Kepala Sekolah membeli rangkaian bunga.
Menjelang tengah hari masih tersisa tiga rangkaian bunga.
Ajit panik. Ia mondar-mandir di depan meja jualnya. Bu Kepala Sekolah mendatanginya. “Coba bawa ke ruang UKS. Bu Ana sedang piket. Dia suka bunga.”
Ajit dan Dani bergegas ke sana. Masing-masing membawa satu rangkaian. Bu Ana ternyata menyukainya. Dan Bu Desi yang sedang menemui be Ana membeli rangkaian yang satu lagi. Ajit dan Dani lega. Tersisa satu rangkaian bunga. Mereka memberikannya ke bu Ani, guru Ketrampilan.
“Terima kasih, bu,” ujar Ajit. “Kita hampir panen layang-layang.” Bu Ani menerima bunga dengan keheranan. Ajit dan teman-temannya sudah beranjak pergi dengan gembira. Tinggal buat rangka, batin Ajit.
Sorenya, mereka saling dorong-mendorong di depan rumah pak Karto. Tino sudah berbalik arah mau pulang. Dani memegang tangan kedua temannya. Ia bersikeras mereka kesana bertiga.
Mereka berhenti di balik pagar. Taman pak Karto indah. Ada kolam kecil dan kincir airnya. Di samping kiri ada pohon mangga yang sedang berbuah. Di sebelahnya tumbuh  pohon bambu yang lebat. Mereka mengintip dari balik pagar. Terdengar ada suara bapak yang marah-marah di bawah pohon mangga.
“Dani, engkau yang paling pemberani,” kata Ajit sambil menengok pagar pak Karto dengan cemas.
“Kita masuk bertiga. Ini khan layang-layangnya bukan hanya untukku,” tegas Dani.
“Hoi…. Siapa disitu?” Tiba-tiba ada suara menggelegar dari balik pagar.
Ajit terlonjak. Ia kaget. Matanya terbelalak menatap pagar. “Aaaa….aaaaku.”
“Kaaammii… pak,” Dani memberanikan diri. Tino bersembunyi di belakang Dani.
“Ada apa kalian disitu?” Mata pak Karto melotot. Kumis tebalnya bergerak-gerak.
“Kalian mau melempari manggaku ya?” kata pak Karto dengan galaknya. “Kincir airku kena batu jadi rusak.”
“Buuukkaan… pak. Kami tidak pernah melempari mangga,” Dani menyahut.
“Kaaami mau buat layang-layang. Kami perlu bambu untuk rangkanya,” sahut Ajit hati-hati. “Bambu bapak banyak. Mungkin bapak mau bantu kami.”
Pak Karto memelototi mereka. Ketiga sahabat itu deg-degan. Rasanya ingin lari pulang saja.
“Ha… ha… ha… Ayo, kalau begitu. Cucuku juga suka layang-layang,” pak Karto membuka pintu.
Dengan takut-takut ketiganya masuk. Pak Karto ternyata mau membantu mereka. Ia selama ini kesal dengan anak-anak yang suka melempari mangganya, makanya ia galak. Ajit dan teman-temannya lega. Pak Karto membantu membuat rangka. Pak Karto bahkan mengajari mereka cara menyeimbangkan rangka. Dani memasang kertas berdua dengan Ajit dan Tino melukis.
            Sore itu di alun-alun, Ajit bersorak-sorak. Ia senang. Jadi juga punya layang-layang. Gambar 

burung berwarna oranye. Ekornya putih panjang. Bertiga mereka menerbangkannya bersama. 

Layang-layang itu terbang meliuk-liuk. Ajit senang. Dani tertawa. Tino tersenyum tipis. Hasil susah 

payah bersama. Dinikmati bersama. Gembira bersama. Mereka memang harus bekerja keras. Tapi 

terbayar sudah lelahnya. Sangat menyenangkan

Cerita Pisang Goreng - Majalah Bobo

“Wah, buah pisangmu hampir masak.” Rizki menunjuk tandan pisang yang mulai berwana hijau tua. “Mau dipetik sore ini?”
“Belum. Besok saja.” Dani tersenyum lebar. Dani membayangkan ia akan makan pisang goreng. Nikmat. Air liurnya hampir menetes.
“Sebaiknya pisangnya dipetik nanti sore saja, Dan,” ujar Rizki dengan serius.
Dani heran. Ia mau bertanya. Tapi Rizki sudah berlari ke sekolah. Lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Dani pun segera berlari menyusul Rizki.
Dani baru enam bulan pindah ke kampung Talang. Ayah Dani kali ini ditugaskan di Riau. Kampungnya ada di pinggir jalan raya. Tapi sisi lain kampung itu berbatasan dengan hutan. Kadang Dani melihat elang terbang melayang di langit. Kera pun terkadang tiba-tiba sudah duduk di tepi jalan. Bahkan kata Rizki, gajah pun lewat di kampung mereka. Dani bergidik. Seram, pikirnya.
Sabtu pagi itu, Dani beranjak menuju pohon pisangnya. Pisangnya sudah hampir matang. Ia tak sabar hendak memotongnya. Tapi ibu memanggilnya.
“Dani, tolong antarkan telur ayam kampung ini ke mak Evi ya. Ada lima butir,” ibu mencegatnya. “Ini pesanan mak Evi kemarin.”
 Rumah mak Evi hampir di ujung jalan. Dani pun segera berlari mengantar telur itu. Ia ingin segera kembali untuk memotong pisang.
Mak Evi sedang membuat bolu pisang, ia sudah menunggu telurnya datang. Dani lalu membantu menghaluskan pisang. Ia ingin tahu cara membuat bolu pisang. Mak Evi sibuk membuat adonan dari telur dan gula pasir. Lalu mak Evi menambahkan tepung, mentega dan pisang yang dilembutkan.
“Wah, repot ya mak. Aku lebih suka buat pisang goreng saja,”ujar Dani. “Tinggal dicelup, digoreng, lalu dimakan. Lezat.”
Mak Evi pun tertawa mendengarnya. Mak Evi memasukkan adonan ke loyang. Lalu Dani pun pamit pulang, ia ingat, ada latihan bola hari itu.
Di lapangan bola, Dani segera bergabung dengan teman-temannya yang sudah tiba lebih dulu. Ia harus banyak berlatih karena masih baru di tim itu. Apalagi, Dani bermain sebagai pemain sayap, tugasnya memberi bola umpan. Ia harus dapat memberikan umpan yang baik ke pemain penyerang.
Menjelang sore, Dani dan teman-temannya berhenti latihan. Dani sungguh capek. Udara di Riau sangat panas. Ini karena Riau dekat dengan khatulistiwa.
“Heh… heh… Rizki, besok pagi ke rumah ya,” Dani berkata dengan terengah-engah. “Kita makan pisang goreng istimewa.”

Rizki dan teman-temannya bersorak senang. Ya, tentu saja semua mau makan pisang goreng. Mereka lalu sibuk membereskan peralatan sepak bolanya sambil bercanda riang. Tak lama kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka tidak mau kemalaman di jalan.
 Dani pun bergegas pulang. Dani melewati jalan tembus agar cepat sampai di rumah. Di tepi jalan Dani melihat ada jejak yang tidak biasa. Jejak telapak kaki itu bulat dan besar. Di sebelahnya, juga ada telapak bulat yang lebih kecil. Aneh, pikir Dani.
“Jejak kaki siapa ya? Kok bulat?” Dani meletakkan telapak tangannya di atas jejak itu. Jejak itu lebih lebar dari telapaknya. Dani melihat sekelingnya. Sepi. Hari pun mulai gelap. Dani jadi merinding. Ia merasa seram, ia pun berlari sekencang-kencangnya.
Dani segera masuk rumah. Dani lalu teringat untuk memeriksa pohon pisangnya. Tapi, ia tak mau jalan ke kebun belakang. Ia masih merasa seram. Ia menjulurkan kepalanya keluar pintu belakang. Ia menengok ke arah pohon pisang. Dan tampaklah setandan pisang yang sudah ranum. Ia sebenarnya ingin memotong pisangnya sore itu. Tapi hari sudah gelap, pikirnya. Lagipula ia masih sedikit ketakutan. Dani mengurungkan niatnya untuk mengambil tandan pisang dari pohonnya.
Pagi itu, Rizki datang lebih awal. Ia akan membantu Dani menggoreng pisang. Berdua mereka berjalan ke kebun belakang. Mereka tertawa-tawa membayangkan makan pisang goreng.
Tapi, aduh, Dani dan Rizki terkejut melihat pohon pisangnya. Mereka terperangah. Pohon pisangnya berserakan. Jangan ditanya kemana buah pisangnya. Lenyap. Hanya ada beberapa jejak kaki bulat. Mirip jejak kaki yang Dani lihat kemarin sore.
Dani memandang pohon pisangnya. Mulutnya ternganga. Ia tak mengerti kenapa pohon pisangnya roboh. Tiba-tiba Rizki tertawa terpingkal-pingkal. Ia menunjuk jejak kaki yang bulat itu.
“Gajah,” ujarnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rupanya, gajah-gagajah itu sudah menghabiskan bukan hanya buah pisang tapi juga beberapa bagian pohon. Ya, gajah memang suka pisang. Dan mereka tahu pisang yang masak. Gajah bisa mencium aromanya. Dani pun akhirnya hanya tersenyum hampa. Gagal makan pisang goreng, pikirnya kesal.
 
****************

Selasa, 06 September 2016

Bapak Izinkan Hau Belajar Membaca - Kompetisi Blogger

Ketepak. Ketepuk.
Kaki anak perempuan hitam manis berusia sembilan tahun itu terdengar menjejak tanah. Diabaikannya telapak kaki kirinya yang hampir melepuh karena tidak beralas. Sambil berlari, tangan kirinya menenteng sandal jepit berwarna hijau yang tadi putus di tengah jalan. Sementara tangan kanannya membawa sebuah buku bergambar kancil dan harimau.
“Mamaaa!” teriaknya sambil melambai-lambaikan buku di tangan. Seorang perempuan yang sedang menyusun kacang tanah di keranjang menoleh lalu tersenyum. Wajahnya berkeringat dan tangannya belepotan tanah. Eno, anak perempuan berambut ikal itu berjalan mendekat.
“Mama dapat banyak kacang hari ini rupanya..” kata Eno seraya melirik keranjang berisi kacang tanah.
“Bisa ita¹ rebus dan sisanya dijual ke pasar,” sahut Mama. “Eh apa itu?” Mama melihat tangan Eno yang menenteng sesuatu.
“Oh, sandal jepitnya tadi putus di jalan, Ma..”
“Bukan itu. Satunya lagi..”
“Buku, Ma. Pinjam punya Etan.”
“Buat apa pinjam buku, Nak? Kamu kan tidak bisa membaca.”
“Tapi hau² suka gambarnya, Ma. Nanti malam hau akan perlihatkan buku ini pada Rae dan Riu sambil pura-pura membaca. Hahaha. Pasti si kembar itu kaget.”
Mama tersenyum kecil.
“Ayo pulang. Besok bantu Mama memanen jagung ya..” kata Mama seraya memanggul keranjang berisi kacang yang baru saja dipanennya. Eno mengangguk.
Perjalanan pulang tidak terlalu jauh. Hanya dua kilometer. Bagi Eno dan keluarganya yang terbiasa berjalan kaki, tentu jarak dua kilometer terhitung dekat.
“Ulang lagi ceritanya, Kak..” pinta Rae pada kakaknya. Sementara Riu masih terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita tentang harimau yang berhasil ditipu oleh kancil. Mendengar permintaan adik-adiknya, Eno kembali mengulangi ceritanya beberapa kali. Tentu saja ia tidak benar-benar membaca seluruh tulisan yang ada di buku tersebut. Eno hanya mengerti beberapa patah kata sambil mengartikan gambar-gambar yang ada. Ia bercerita dengan penuh ekspresi di depan adik-adiknya, seolah benar-benar sudah lancar membaca.
“Kakak hebat bisa membaca,” kata Riu dengan kagum. “Besok ajari ya, Kak..”
“Hehe. Tentu saja. Sekarang tidur dulu ya. Besok kakak akan bacakan cerita lain yang lebih seru lagi.”
“Besok? Sungguh?” tanya Rae. Matanya yang bulat berkerjap-kerjap. Eno mengangguk lalu menutupi tubuh adik kembarnya dengan selimut.
“Ke mana saja tadi emi³ seharian?” tanya Bapak sambil meletakkan cangkir kopi yang baru saja diseruputnya. “Di ladang membantu Mama bukan?”
“Di rumah Etan, Pak. Belajar membaca..” sahut Eno lirih.
“Etan? Anak petugas survey penduduk itu?”
Eno mengangguk pelan.
Hau ingin sekali bisa membaca..” suara Eno nyaris tidak terdengar. Bapak bangkit dari duduk lalu berdiri di atas lututnya sambil mengamit tangan Eno.
Emi mau bersekolah, Nak?” tanya Bapak dengan suara bergetar.
Eno diam.
Bagi Eno, sekolah adalah sebuah kata yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Sama seperti ribuan orang lainnya di Belu. Tak heran jika masih banyak diantara mereka yang buta huruf. Demikian pula Eno dan keluarganya.
Hau tidak ingin bersekolah, Pak. Bisa membaca saja sudah cukup..” sahut Eno. Bapak terdiam.
***
“Hari ini emi di rumah saja menjaga Rae dan Riu. Tidak usah pergi ke ladang,” pesan Bapak sesaat sebelum berangkat mencari kayu bakar.
“Baik, Pak..” sahut Eno seraya melirik buku pinjaman dari Etan yang tergeletak di meja. Buku itu sedianya akan ia kembalikan pada Etan agar bisa meminjam buku yang lain.
“Mumpung si kembar tidur, pergilah kembalikan buku. Biar Mama yang jaga Rae dan Riu,” kata Mama sesaat setelah Papa menghilang dari pandangan.
“Tapi, Ma..”
“Ini. Biar nanti Mama yang bicara pada Bapakmu,” kata Mama seraya menyerahkan buku bergambar kancil dan harimau itu pada Eno. “Lekas berangkat sebelum Mama berubah pikiran..”
Eno berlari-lari kecil menuju rumah Etan. Langkahnya terlihat agak pincang. Tadi malam Bapak memasang sebuah paku besar pada tali sandalnya yang putus sebagai penahan. Meski bisa dipakai lagi, tapi sandal jepit hijau itu jadi tinggi sebelah karena alasnya terganjal paku.
Sebuah rumah kayu beratap rumbia tampak di hadapan Eno. Di samping rumah itu terdapat rumah panggung dengan empat tiang penyangga tanpa dinding. Ada palang berwarna putih dengan tulisan hitam besar di salah satu tiang kayunya. Kemarin Eno sudah berhasil membacanya. UMA BACA, begitu bunyi tulisan itu.
Rumah itu adalah rumah Etan. Sesuai dengan namanya, rumah panggung itu memang digunakan sebagai rumah baca atau perpustakaan umum. Siapapun boleh meminjam buku di sana. Bahkan setiap hari Minggu, bapak Etan memberi kelas belajar membaca gratis. Di kelas itulah Eno kemarin belajar membaca.
“Eno!” panggil seseorang dari balik rak buku Uma Baca. Tampak Etan melambaikan tangannya. Eno berjalan mendekat.
Hau mau kembalikan buku ini,” kata Eno seraya menyerahkan buku cerita yang dibawanya.
“Sudah selesai?”
Eno mengangguk cepat.
“Oh iya, minggu depan ada festival dongeng di Atambua. Akan ada banyak pertunjukan. Panitia bilang, bapak menteri akan hadir. Uma Baca boleh mengirim dua perwakilan untuk tampil. Emi mau? Emi kan pintar mendongeng..” tanya Etan.
“Atambua? Mendongeng? Hau mau ikut. Ah, tapi jauh sekali..” keluh Eno sambil menggaruk belakang lehernya.
“Kalau kamu mau ikut, ita bisa berangkat sama-sama. Kebetulan bapak juga datang ke festival itu, jadi ita bisa menumpang mobil kantornya.”
“Wah, sungguh kebetulan!”
“Nanti emi pilih sendiri dongengnya ya,” lanjut Etan.
***
“Mama lihat buku cerita bergambar naga?” tanya Eno sambil memeriksa seisi rumah. Dari rak piring sampai alas tidur semua sudah diperiksanya, tapi buku cerita itu tak kunjung ditemukannya. Mama yang sedang menjahit baju menggeleng pelan.
“Sudah Bapak buang,” sahut Bapak yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Eno menoleh, sementara Mama meletakkan peralatan jahitnya begitu saja di meja.
“Kenapa, Pak?” tanya Eno heran.
Emi sekarang ingin bisa membaca, besok pasti ingin bisa menulis. Lalu besoknya lagi ingin sekolah. Setelah jadi orang pintar, besoknya jadi orang angkuh yang lupa dengan asal usul dan kampung halaman.”
“Eno hanya ingin bisa membaca, Pak. Kenapa Bapak berpikir jauh sekali seperti itu..” Mama berusaha membela.
“Ah, kenapa emi malah membela. Tidak lihatkah orang-orang pintar itu? Yang jadi sombong dan akhirnya malu mengakui leluhur. Bicara bahasa daerahnya saja malu. Hau tidak mau Eno seperti itu!”
“Besok pagi hau akan bacakan dongeng di depan Bapak Menteri, Pak. Sungguh, hau sama sekali tidak pernah berpikir akan menjadi orang yang angkuh, apalagi sampai melupakan leluhur. Hau akan berhenti belajar jika Bapak melarang, tapi ijinkan sekali saja hau buat bangga Bapak dan Mama di hadapan orang-orang dan bapak menteri..” kata Eno lirih. Ingin rasanya ia menangis keras-keras, tapi malu. Sudah malam. Sementara Bapak dan Mama terdiam. Ada sedikit raut penyesalan di wajah Bapak.
Matahari belum tinggi benar, tapi Eno sudah sibuk sejak tadi. Dipakainya baju yang paling bagus. Rambut ikalnya diikat dengan karet gelang warna merah. Ia tersenyum manis di depan cermin kecil yang tergantung di dinding rumah kayunya.
“Bapak ke mana, Ma?” tanya Eno. Ia tak melihat bapaknya sejak bangun tidur tadi pagi.
“Entahlah. Mama juga tidak tahu. Mungkin sudah pergi ke ladang sejak subuh.”
“Kalau begitu tolong pamitkan pada Bapak ya, Ma. Hau ke rumah Etan dulu, setelah itu baru ke Atambua.”
“Jangan lupa bawa bekal yang sudah Mama siapkan,” pesan Mama.
Eno menyambar sebuah bungkusan plastik hitam di atas meja lalu bergegas ke luar rumah setelah mencium Mama dan kedua adiknya.
***
Hau cuma punya jagung satu keranjang. Tadinya mau hau jual ke pasar. Kalau boleh tukar dengan ongkos ke Atambua, mau lihat pertunjukan anak hau..” dengan wajah penuh harap, Bapak menunjukkan keranjang berisi jagung di punggungnya.
Sopir angkot itu melirik sebentar, lalu menggeleng pelan.
“Mana ada ongkos angkot dibayar dengan jagung,” katanya singkat.
“Tapi cuma ini yang hau punya..” kata Bapak lagi. “Tolonglah..”
Beberapa orang penumpang saling pandang.
“Biar hau beli semua jagungnya, Pak. Bapak naik saja,” kata seorang laki-laki yang duduk di jok belakang.
“Ah, benar begitu, Pak?” tanya Bapak dengan mata berbinar. Laki-laki berseragam cokelat itu mengangguk. Bapak buru-buru menurunkan keranjang, lalu memasukkannya ke dalam angkot. Sambil menyeka keringat, laki-laki setengah baya itu duduk di jok angkot yang keras. Sebuah buku bersampul gambar naga digenggamnya erat-erat.
“Buku ceritanya sudah Bapak temukan, Nak..” katanya dalam hati.
Di belakang panggung, Eno memejamkan matanya. Ia berusaha mengingat kembali urutan dongeng yang hendak ia ceritakan. Sesekali dahinya mengkerut. Saat Bapak membuang buku cerita yang dipinjamnya dari Etan, Eno baru membacanya dua kali.
Mendengar namanya disebut, jantung Eno berdegup dua kali lebih kencang. Sama seperti saat ia dikejar anjing liar tempo hari. Eno menarik nafas panjang, lalu melangkah ke panggung.
“Legenda Lok Si Naga...” Eno memulai ceritanya dengan suara berat. Sambil mengumpulkan keberanian, ia memandang deretan penonton yang ada di hadapannya. Orang-orang yang duduk di kursi paling depan adalah Bapak Bupati, Bapak Menteri dan orang-orang penting lainnya. Begitu kata Etan. Eno menarik nafas panjang sekali lagi lalu melanjutkan ceritanya.
Di daerah Nangahale, Kabupaten Sikka, tinggallah sebuah keluarga nelayan. Mereka memiliki seorang anak. Saat kedua orang tuanya mencari ikan, si anak tinggal di rumah.
Pada suatu hari, kedua orang tua nelayan itu pergi mencari ikan. Namun sayang, sampai matahari hampir terbenam mereka belum juga ada ikan yang mereka dapat. Saat mereka hampir putus asa, tiba-tiba mereka melihat sebuah telur yang amat besar tersangkut di jala. Karena takut, mereka memutuskan untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Namun tiap kali mereka memasukkan telur itu ke sungai, setiap kali itu pula telur itu tersangkut di jala mereka. Akhirnya suami-istri itu memutuskan untuk membawa pulang telur tersebut.
Sesampainya di rumah, mereka mendapati anaknya sedang tidur. Karena lapar, telur yang besar itu akhirnya direbus lalu dimakan bersama nasi. Sungguh aneh. Setelah memakannya, tiba-tiba suami-istri itu berubah menjadi dua ekor naga yang besar. Anak mereka yang baru saja bangun terkejut dan menangis saat mendapati kedua orang tuanya telah berubah menjadi naga.
Dengan penuh kasih sayang, sang ayah bercerita tentang asal muasal kejadian tersebut. Sementara sang ibu berpesan untuk tidak sekali-kali memakan sisa telur yang ada, karena itu adalah telur naga putih. Barangsiapa yang memakannya, maka akan berubah menjadi naga seperti mereka berdua.
Setelah meninggalkan pesan tersebut, keduanya kembali ke sungai untuk melawan naga putih yang telah mengubah wujud mereka. Jika air sungai berubah menjadi merah, itu adalah pertanda kalau mereka kalah. Tapi sebaliknya, jika air sungai berubah menjadi putih, itu pertanda bahwa mereka yang menang. Tanda berakhirnya pertarungan itu akan muncul ketika hujan turun rintik-rintik saat cuaca panas dan munculnya pelangi diantara langit dan bumi.
Setelah orang tuanya pergi, anak itu selalu duduk di tepi sungai. Pada suatu hari yang panas, turunlah hujan rintik-rintik. Lalu pelangi muncul tak lama kemudian. Dari tepi sungai, anak itu melihat air sungai berubah menjadi putih, pertanda kedua orang tuanya berhasil mengalahkan si naga putih. Meskipun demikian, keduanya tetap tidak bisa kembali menjadi manusia. Si anak yang bersedih, tetap menunggu di tepi sungai sampai akhir hayatnya.
Para penonton yang semula hening, akhirnya bertepuk tangan meriah setelah Eno menyelesaikan ceritanya.
“Setelah mendengarkan cerita ini, saya harap bapak-bapak, ibu-ibu dan para hadirin sekalian tidak takut untuk makan telur. Tenang saja, telur di sini diambil dari kandang ayam atau kandang bebek dan bukan dari dalam sungai..” kata Eno yang disambut gelak tawa penonton. Mereka kembali bertepuk tangan. Eno tersenyum sambil memamerkan giginya. Hatinya bangga bukan kepalang.
“Eno!” teriak seseorang setelah pertunjukan selesai. Eno menoleh.
“Bapak?” Eno berlari kecil menghampiri bapaknya. “Kok Bapak bisa sampai di sini?”
“Bapak mau kembalikan buku cerita, Nak. Sedikit kotor, tapi Bapak yakin masih bisa dibaca. Ini..” Bapak menyerahkan sebuah buku yang belepotan tanah. “Kemarin Bapak membuangnya ke ladang. Maafkan Bapak ya..”
Eno buru-buru memeluk bapaknya
“Bapak bangga sekali melihat emi tadi. Kalau panen besar tiba, Bapak akan belikan buku apapun yang emi mau..”
Eno memeluk bapaknya semakin erat.
“Terima kasih, Pak..” katanya lirih.



Keterangan
¹ita =  kita
²hau =  saya

³emi =  kamu

Minggu, 04 September 2016

Perlombaaan di Tepi Pantai - Nusantara Bertutur Kompas Klasika

Dani sedang berlibur di rumah kakek di Yogyakarta. Sepupunya, Jarot, juga berlibur di sana. Kali ini, Dani ingin melihat pantai. Baginya, laut itu selain indah juga tempat hidup ikan yang beraneka ragam. Ya, Dani memang suka makan ikan.
Sore itu, Dani dan Jarot diantar ayah ke salah satu pantai di Gunung Kidul. Pasirnya berwarna putih. Air lautnya bening. Indah sekali. Tapi pantainya penuh karena banyak pengunjung yang datang.
“Dani, itu tempat sampahnya,” ujar ayah. “Sampah plastiknya dimasukkan ke dalam tong sampah, ya.”
Dani mengangguk. Ia juga suka lingkungan yang bersih. Ia lalu menarik Jarot ke tepi laut. Tak lama kemudian, Dani dan Jarot sudah berlari-lari dan bermain air. Sungguh menyenangkan dan menyegarkan.
Sedang asyik bermain, tiba-tiba kaki Dani terjerat kantong plastik. Ia terjerembab. Byuurr… Dani basah kuyup. Dani mengerutkan dahinya. Ia tidak keberatan tercebur ke air, tapi ia tidak suka ada sampah plastik di laut. Minggu lalu, ia membaca tentang sampah plastik yang menyebabkan ikan-ikan mati. Bahkan penyu pun bisa mati bila tidak sengaja menelan plastik. Satwa laut itu bisa kelaparan.
Dani lalu mengamati tepian pantai. Aduh, ternyata ada juga botol minuman plastik dibuang di pantai. Plastik itu bisa terbawa ombak ke tengah laut. Itu akan menyebabkan polusi di laut. Polusi dapat membuat ikan-ikan sakit.
Dani tidak mau plastik itu mengganggu kehidupan ikan di laut. Ia sibuk berpikir. Ia ingin pantainya tetap bersih. Aha, Dani dapat ide.
“Jarot, ayo kita lomba pungut plastik,” ajak Dani.
“Untuk apa?”
“Supaya pantainya bersih, lautnya jadi sehat dan kita juga sehat. Berlari itu olahraga. Jadi kita berolahraga sambil menjaga kebersihan lingkungan,” ucap Dani.
Jarot segera lari memunguti sampah.
Dani mengingatkan, “Eit, tunggu dulu. Kita ambil sarung tangan. Ayah selalu membawa beberapa pasang.”
Tak lama kemudian, Dani dan Jarot sudah berlomba-lomba mencari plastik yang ada di pantai. Sesekali Dani mengejar plastik yang terbawa ombak. Seru sekali mengejar ombak. Ayah pun ikut terjun ke pinggir pantai. Mereka berburu sampah plastik sambil bermain air.
Akhirnya bersih juga. Dani tersenyum puas. Ia capai, tapi ia senang. Pantainya jadi bebas sampah plastik. Lautnya yang biru jernih pun terjaga.
            “Wah, pantainya sudah bersih,” ucap Dani dengan gembira.
            “Bagus sekali. Lingkungan yang bersih membuat hidup kita sehat,” ayah mengacungkan ibu jarinya.
            “Ikannya juga jadi sehat,” sahut Dani. “Kita bisa makan ikan yang sehat.”
            Ayah tertawa. Ayah tahu, Dani mulai lapar.

***

Hikmah Cerita: Laut itu sumber daya Indonesia yang kaya. Jadi kita harus menjaga kelestarian laut kita. Kepedulian terhadap lingkungan itu akan membuat kita hidup sehat.

Menanam Bakau - Nusantara Bertutur Kompas Klasika

“Lila, yuk ikut ke pantai,” tante Mia sudah siap dengan topi lebarnya.
“Asyiik, kita akan main pasir di pantai,” Lila melonjak kegirangan.
“Eh, kita tidak ke pantai pasir putihnya. Kita melihat hutan bakaunya. Seru kok,” tante Mia cepat-cepat menjelaskan.
“Hutan bakau banyak lumpurnya tante,” keluh Lila. Tante Mia tersenyum penuh rahasia.
Apa serunya melihat hutan bakau, pikir Lila. Tapi rasa ingin tahu Lila tergelitik. Akhirnya ia ikut juga.
Tante Mia, adik bunda itu suka menjelajahi pantai di akhir pekan. Baru kali ini Lila ikut. Sudah dua hari ini tante Mia menginap di rumah Lila di Medan. Ia akan pergi ke pantai bakau di sebelah barat Medan. Jaraknya sekitar dua jam dari rumah Lila.
Sesampainya di pantai, Lila mengikuti tante Mia yang membawa beberapa bibit tanaman bakau. Mereka akan menanam bibit bakau itu. Lila memasukkan kakinya ke tanah yang becek. Hiii, geli. Lila pakai sepatu tapi tetap saja ia merasa geli melihat lumpur yang seperti bubur hitam. Lila melihat beberapa ikan kecil dan biota laut lainnya yang bersembunyi di antara akar tanaman.
 “Lucu sekali. Itu anak kepitingnya bersembunyi,” ujar Lila. Ia terkikik geli. Ia lupa dengan lumpur yang tidak disukainya. Tante Mia membuat lubang di tanah. Lila segera memasukkan bibit yang dipegangnya. Ia lalu memegang bibit itu agar tante Mia mudah mengikatnya ke batang bambu penopang.
Lila akhirnya sibuk menanam sambil memperhatikan hewan-hewan kecil yang kadang tampak muncul dari dalam lumpur. Kadang-kadang ia menjerit geli, bila ada anak kepiting yang tiba-tiba muncul. Tentu saja kepiting itu juga kaget dan berlari menjauh.
“Tanaman bakau ini menjadi tempat tinggal anak-anak ikan, udang maupun kepiting. Mereka bisa bersembunyi di antara akar bakau. Kalau sudah cukup besar baru mereka ke laut,” tante Mia menjelaskan.
“Jadi ini jadi tempat persembunyian anak-anak ikan dan kepiting ya tante?” Lila mengerutkan keningnya. “Oh, jadi tanaman bakau bukan hanya untuk menahan abrasi laut.”
“Iya, ikan, udang dan kepitingnya lalu bisa dipanen bila sudah cukup besar. Dan buah bakaunya juga bisa dibuat jadi dodol,” tante Mia menjelaskan sambil tersenyum.
Lila jadi tahu, tanaman bakau banyak manfaatnya. Sungguh menyenangkan bisa bekerja sambil belajar.
Menjelang siang, selesai sudah menanam bakaunya. Lila memandang bibit bakau yang ditanamnya. Ia senang bisa ikut menjaga tempat hidup satwa air itu. Selain itu, tanaman bakaunya juga mencegah pengikisan pantai. Lalu, Lila mengikuti tante Mia yang mengajaknya ke rumah makan di tepi pantai. Mereka akan makan kepiting rebus dan dodol bakau. Sungguh nikmat. Rasa capai Lila pun hilang.

***
Hikmah Cerita: Mari kita jaga pantai kita dari pengikisan, agar kekayaan satwa yang hidup di sana tidak lenyap.